Eliza Kewang Haruku
www.kewang-haruku.org
kalpataru
HOME SASI HARUKU PERATURAN SASI SASI IKAN LOMPA STRUKTUR ADAT
Related Link

Kewang Haruku

Create Your Badge
 
Web Counter
Free Counter
 
free counters
 

 

SASI IKAN LOMPA NEGERI HARUKU

Oleh : Eliza Kissya

Di antara semua jenis dan bentuk sasi di Haruku, yang paling menarik dan paling unik atau khas desa ini adalah sasi ikan lompa (Trisina baelama; sejenis ikan sardin kecil).
Jenis sasi ini dikatakan khas Haruku, karena memang tidak terdapat di tempat lain di seluruh Maluku. Lebih unik lagi karena sasi ini sekaligus merupakan perpaduan antara sasi laut dengan sasi kali. Hal ini disebabkan karena keunikan ikan lompa itu sendiri yang, mirip perangai ikan salmon yang dikenal luas di Eropa dan Amerika, dapat hidup baik di air laut maupun di air kali. Setiap hari, dari pukul 04.00 dinihari sampai pukul 18.30 petang, ikan ini tetap tinggal di dalam kali Learisa Kayeli sejauh kuranglebih 1500 meter dari muara. Pada malam hari barulah ikan-ikan ini ke luar ke laut lepas untuk mencari makan dan kembali lagi ke dalam kali pada subuh hari. Yang menakjubkan adalah bahwa kali Learisa Kayeli yang menjadi tempat hidup dan istirahat mereka sepanjang siang hari, menurut penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, Ambon, ternyata sangat miskin unsur-unsur plankton sebagai makanan utama ikan-ikan. Walhasil, tetap menjadi pertanyaan sampai sekarang: dimana sebenarnya ikan lompa ini bertelur untuk melahirkan generasi baru mereka?

IKAN

 

LEGENDA IKAN LOMPA

Menurut tuturan cerita rakyat Haruku, konon, dahulu kala di kali Learisa Kayeli terdapat seekor buaya betina. Karena hanya seekor buaya yang mendiami kali tersebut, buaya itu dijuluki oleh penduduk sebagai "Raja Learisa Kayeli".
Buaya ini sangat akrab dengan warga negeri Haruku. Dahulu, belum ada jembatan di kali Learisa Kayeli, sehingga bila air pasang, penduduk Haruku harus berenang menyeberangi kali itu jika hendak ke hutan. Buaya tadi sering membantu mereka dengan cara menyediakan punggungnya ditumpangi oleh penduduk Haruku menyeberang kali. Sebagai imbalan, biasanya para warga negeri menyediakan cincin yang terbuat dari ijuk dan dipasang pada jari-jari buaya itu.
Pada zaman datuk-datuk dahulu, mereka percaya pada kekuatan serba-gaib yang sering membantu mereka. Mereka juga percaya bahwa binatang dapat berbicara dengan manusia. Pada suatu saat, terjadilah perkelahian antara buaya-buaya di pulau Seram dengan seekor ular besar di Tanjung Sial. Dalam perkelahian tersebut, buaya-buaya Seram itu selalu terkalahkan dan dibunuh oleh ular besar tadi. Dalam keadaan terdesak, buaya-buaya itu datang menjemput Buaya Learisa yang sedang dalam keadaan hamil tua. Tetapi, demi membela rekan-rekannya di pulau Seram, berangkat jugalah sang "Raja Learisa Kayeli" ke Tanjung Sial. Perkelahian sengit pun tak terhindarkan.
Ular besar itu akhirnya berhasil dibunuh, namun Buaya Learisa juga terluka parah. Sebagai hadiah, buaya-buaya Seram memberikan ikan-ikan lompa, make dan parang parang kepada Buaya Learisa untuk makanan bayinya jika lahir kelak.
Maka pulanglah Buaya Learisa Kayeli ke Haruku dengan menyusur pantai Liang dan Wai. Setibanya di pantai Wai, Buaya Learisa tak dapat lagi melanjutkan perjalanan karena lukanya semakin parah. Dia terdampar disana dan penduduk setempat memukulnya beramai-ramai, namun tetap saja buaya itu tidak mati. Sang buaya lalu berkata kepada para pemukulnya: "Ambil saja sapu lidi dan tusukkan pada pusar saya". Penduduk Wai mengikuti saran itu dan menusuk pusar sang buaya dengan sapu lidi. Dan, mati lah sang "Raja Learisa Kayeli" itu.
Tetapi, sebelum menghembuskan nafas akhir, sang buaya masih sempat melahirkan anaknya. Anaknya inilah yang kemudian pulang ke Haruku dengan menyusur pantai Tulehu dan malahan kesasar sampai ke pantai Passo, dengan membawa semua hadiah ikan-ikan dari buaya-buaya Seram tadi. Karena lama mencari jalan pulang ke Haruku, maka ikan parangparang tertinggal di Passo, sementara ikan lompa dan make kembali bersamanya ke Haruku. Demikianlah, sehingga ikan lompa dan make (Sardinilla sp) merupakan hasil laut tahunan di Haruku, sementara ikan parang parang merupakan hasil ikan terbesar di Passo

PELAKSANAAN & PERATURAN SASI LOMPA

Bibit atau benih (nener ikan lompa biasanya mulai terlihat secara berkelompok dipesisir pantai Haruku antara bulan April sampai Mei. Pada saat inilah, sasi lompa dinyatakan mulai berlaku (tutup sasi). Biasanya, pada usia kira-kira sebulan sampai dua bulan setelah terlihat pertama kali, gerombolan anak-anak ikan itu mulai mencari muara untuk masuk ke dalam kali.
Hal-hal yang dilakukan Kewang sebagai pelaksana sasi ialah memancangkan tanda sasi dalam bentuk tonggak kayu yang ujungnya dililit dengan daun kelapa muda (janur). Tanda ini berarti bahwa semua peraturan sasi ikan lompa sudah mulai diberlakukan sejak saat itu, antara lain:
1. Ikan-ikan lompa, pada saat berada dalam kawasan lokasi sasi, tidak boleh ditangkap atau diganggu dengan alat dan cara apapun juga.
2. Motor laut tidak boleh masuk ke dalam kali Learisa Kayeli dengan mempergunakan atau menghidupkan mesinnya.
3. Barang-barang dapur tidak boleh lagi dicuci di kali.
4. Sampah tidak boleh dibuang ke dalam kali, tetapi pada jarak sekitar 4 meter dari tepian kali pada tempat-tempatyang telah ditentukan oleh Kewang.
5. Bila membutuhkan umpan untuk memancing, ikan lompa hanya boleh ditangkap dengan kail, tetapi tetap tidak boleh dilakukan di dalam kali.
Bagi anggota masyarakat yang melanggar peraturan ini akan dikenakan sanksi atau hukuman sesuai ketetapan dalam peraturan sasi, yakni berupa denda. Adapun untuk anak-anak yang melakukan pelanggaran, akan dikenakan hukuman dipukul dengan rotan sebanyak 5 kali yang menandakan bahwa anak itu harus memikul beban amanat dari lima soa (marga besar) yang ada di Haruku.

UPACARA SASI LOMPA

Pada saat mulai memberlakukan masa sasi (tutup sasi), dilaksanakan upacara yang disebut panas sasi. Upacara ini dilakukan tiga kali dalam setahun, dimulai sejak benih ikan lompa sudah mulai terlihat. Upacara panas sasi biasanya dilaksanakan pada malam hari, sekitar jam 20.00. Acara dimulai pada saat semua anggota Kewang telah berkumpul di rumah Kepala Kewang dengan membawa daun kelapa kering (lobe) untuk membuat api unggun. Setelah melakukan doa bersama, api induk dibakar dan rombongan Kewang menuju lokasi pusat sasi (Batu Kewang) membawa api induk tadi. Di pusat lokasi sasi, Kepala Kewang membakar api unggun, diiringi pemukulan tetabuhan (tifa) bertalu-talu secara khas yang menandakan adanya lima soa (marga) di desa Haruku. Pada saat irama tifa menghilang, disambut dengan teriakan Sirewei (ucapan tekad, janji, sumpah) semua anggota Kewang secara gemuruh dan serempak. Kepala Kewang kemudian menyampaikan Kapata (wejangan) untuk menghormati desa dan para datuk serta menyatakan bahwa mulai saat itu, di laut maupun di darat, sasi mulai diberlakukan (ditutup) seperti biasanya. Sekretaris Kewang bertugas membacakan semua peraturan sasi lompa dan sanksinya agar tetap hidup dalam ingatan semua warga desa. Upacara ini dilakukan pada setiap simpang jalan dimana tabaos (titah, maklumat) biasanya diumumkan kepada seluruh warga dan baru selesai pada pukul 22.00 malam di depan baileo (Balai Desa) dimana sisa lobe yang tidak terbakar harus di buang ke dalam laut.

LOBE

 

PEMASANGAN TANDA SASI LOMPA

Setelah selesai upacara panas sasi, dilanjutkan dengan pemancangan tanda sasi. Tanda sasi ini biasanya disebut kayu buah sasi, terdiri dari kayu buah sasi mai (induk) dan kayu buah sasi pembantu. Kayu ini terbuat dari tonggak yang ujungnya dililit dengan daun tunas kelapa (janur) dan dipancangkan pada tempat-tempat tertentu untuk menentukan luasnya daerah sasi.
Menurut ketentuannya, yang berhak mengambil kayu buah sasi mai dari hutan adalah Kepala Kewang Darat untuk kemudian dipancangkan di darat. Adapun Kepala Kewang Laut mengambil kayu buah sasi laut atau disebut juga kayu buah sasi anak (belo), yakni kayu tongke (sejenis bakau) dari dekat pantai, kemudian dililit dengan daun keker (sejenis tumbuhan pantai juga) untuk dipancangkan di laut sebagai tanda sasi. Luas daerah sasi ikan lompa di laut adalah 600 x 200 meter, sedang di darat (kali) adalah 1.500 x 40 meter mulai dari ujung muara ke arah hulu sungai (lihat Peta Daerah Sasi Ikan Lompa Haruku).

TANDA

 

BUKA SASI LOMPA

Setelah ikan lompa yang dilindungi cukup besar dan siap untuk dipanen (sekitar 5-7 bulan setelah terlihat pertama kali), Kewang dalam rapat rutin seminggu sekali pada hari Jumat malam menentukan waktu untuk buka sasi (pernyataan berakhirnya masa sasi). Keputusan tentang "hari-H" ini dilaporkan kepada Raja Kepala Desa untuk segera diumumkan kepada seluruh warga.

PENGUMUMAN


Upacara (panas sasi) yang kedua pun dilaksanakan, sama seperti panas sasi pertama pada saat tutup sasi dimulai. Setelah upacara, pada jam 03.00 dinihari, Kewang melanjutkan tugasnya dengan makan bersama dan kemudian membakar api unggun di muara kali Learisa Kayeli dengan tujuan untuk memancing ikan ikan lompa lebih dini masuk ke dalam kali sesuai dengan perhitungan pasang air laut. Biasanya, tidak lama kemudian, gerombolan ikan lompa pun segera berbondong-bondong masuk ke dalam kali. Pada saat itu, masyarakat sudah siap memasang bentangan di muara agar pada saat air surut ikan-ikan itu tidak dapat lagi keluar ke laut.

API UNGGUN
MAKAN BERSAMA

Tepat pada saat air mulai surut, pemukulan tifa pertama dilakukan sebagai tanda bagi para warga, tua-muda, kecil-besar, semuanya bersiap-siap menuju ke kali. Tifa kedua dibunyikan sebagai tanda semua warga segera menuju ke kali. Tifa ketiga kemudian menyusul ditabuh sebagai tanda bahwa Raja, para Saniri Negeri, juga Pendeta, sudah menuju ke kali dan masyarakat harus mengambil tempatnya masing-masing di tepi kali. Rombongan Kepala Desa tiba di kali dan segera melakukan penebaran jala pertama, disusul oleh Pendeta dan barulah kemudian semua warga masyarakat bebas menangkap ikan-ikan lompa yang ada.

PUKUL TIFA


Biasanya, sasi dibuka selama satu sampai dua hari, kemudian segera ditutup kembali dengan upacara panas sasi lagi. Catatan penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura pada saat pembukaan sasi tahun 1984 menunjukkan bahwa jumlah total ikan lompa yang dipanen pada tahun tersebut kurang-lebih 35 ton berat basah: suatu jumlah yang tidak kecil untuk sekali panen dengan cara yang mudah dan murah. Jumlah sebanyak itu jelas merupakan sumber gizi yang melimpah, sekaligus tambahan pendapatan yang lumayan, bagi seluruh warga negeri Haruku. Masalahnya kini adalah: sampai kapan semua itu bisa bertahan?

SASI LOMPA


Perusakan lingkungan (habitat) terumbu karang di pantai Haruku oleh pemboman liar pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab tetap berlangsung sampai saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat (melalui Kewang) untuk mencegah semakin meluasnya perusakan tersebut, bahkan sampai ke tingkat memperkarakannya di pengadilan dan kepolisian. Namun, semua upaya itu nyaris buntu semua, seringkali hanya karena penduduk Haruku adalah rakyat kecil yang sederhana dan awam yang tidak memiliki saluran ke pusat-pusat kekuasaan yang berwenang. Dalam keadaan nyaris putus asa dan bingung, seringkali rakyat Haruku merasa bahwa bahkan Hadiah Kalpataru 1985 bagi mereka, lengkap dengan tugu peringatannya di depan Balai Desa Haruku, sama sekali tidak bermakna apa-apa untuk mencegah para perusak lingkungan tersebut.

tugu kalpataru

video

 

 

 

Artikel Terkait :

 

 


Conservation is the management, protection, and wise use of natural resources. Natural resources include all the things that help support life, such as sunlight, water, soil, and minerals. Plants and animals are also natural resources. The earth has limited supplies of many natural resources. Our use of these resources keeps increasing as the population grows and our standard of living rises. Conservationists work to ensure that the environment can continue to provide for human needs. Without conservation, most of the earth's resources would be wasted, degraded, or destroyed. Conservation includes a wide variety of activities. Conservationists work to keep farmlands productive. conservation They manage forests to supply timber, to shelter wildlife, and to provide people with recreational opportunities. They work to save wilderness areas and wildlife from human destruction. They try to find ways to develop and use mineral resources without damaging the environment. Conservationists also seek safe, dependable ways to help meet the world's energy needs. In addition, they work to improve city life by seeking solutions to air pollution, waste disposal, and urban decay. Conservationists sometimes divide natural resources into four groups: (1) inexhaustible resources, (2) renewable resources, (3) nonrenewable resources, and (4) recyclable resources. Inexhaustible resources, such as sunlight, cannot be used up. Conservation experts consider water an inexhaustible resource because the earth will always have the same amount of water. But water supplies vary from one area to another, and some areas have shortages of clean, fresh water. The supplies of salt and some other minerals are so abundant that they are not likely to be used up. Renewable resources can be used and replaced. They include plants and animals, which reproduce and so replace themselves. Most renewable resources cannot be stored for future use. For example, old trees rot and become useless for timber if they are not cut down, though rotting trees can serve such important purposes as providing habitat for wildlife. In addition, because most renewable resources are living things, they interact with one another. Thus, the use of one such resource affects others. For example, cutting down trees affects many plants and animals, as well as soil and water resources. Soil may be considered a renewable resource because crops can be grown on the same land for years if the soil is cared for properly. But if the soil is allowed to wash or blow away, it can only be replaced over hundreds of years. Nonrenewable resources, such as coal, iron, and petroleum, cannot be replaced. They take thousands or millions of years to form. People deplete supplies of these resources faster than new supplies can form. We can store most nonrenewable resources for future use. Mining companies sometimes leave minerals in the ground to save them for the future. Little interaction occurs among most nonrenewable resources, so using one nonrenewable resource has little effect on another. Recyclable resources, such as aluminum and copper, can be used more than once. For example, aluminum can be used to make containers and then be reprocessed and reused. People have practiced some kinds of conservation for hundreds of years. As a popular movement, however, conservation began in the United States during the early 1900's. The word conservation was probably first used by Gifford Pinchot, head of the U.S. Forest Service during President Theodore Roosevelt's administration. The term comes from two Latin words-servare, which means to keep or to guard, and con, which means together. During the early 1900's, American conservationists worked chiefly to preserve the nation's forests and wildlife. Today, conservationists work in many fields, including forestry, geology, range ecology, soil science, wildlife biology, and urban planning. Conservationists are also called environmentalists. One of the most difficult challenges of conservation is to reconcile two, sometimes conflicting, goals-(1) to protect the environment and (2) to maintain or increase agricultural and industrial production. For example, the agricultural use of some chemical fertilizers and pesticides pollutes the environment but also greatly increases crop yields. Thus, most farmers do not want to stop using these chemicals, even though it would be best for the environment. Only the combined efforts of many people can solve such problems. Business leaders, government officials, scientists, and individuals must all work together to conserve natural resources.

KEWANG HARUKU - DESA HARUKU
KABUPATEN MALUKU TENGAH - PROVINSI MALUKU - INDONESIA
WEBSITE : www.kewang-haruku.org EMAIL : kewangharuku@gmail.com
TELP. +6285243460984 (Eliza Kissya)
designed by irwantoshut.net